Laman

Friday, 30 December 2011

Orang Kaya Belum Tentu Naik Haji

(Gambar diambil dari sini)

Hari itu saya mendapatkan jadwal untuk OJT disalah satu bagian dikantor tempat saya bekerja. Ketika mentari mulai meninggi dimana waktu saudara muslim sholat duha dan peruta juga mulai mengajak untuk makan kecil alais jajan. Ya kurang lebih sekitar jam setengah sepuluh pagi. Saya dan temen-temen menuju suatu kantin kecil berukuran 3x4 disudut bengkel dekat department tempat kami OJT. Masih teringat dibenak saya waktu awal diajak salah satu teman kantor survey lapangan dan mampir dikantin tersebut. Penjualnya seorang bapak yang umurnya kira-kira 45 tahun, sang bapak berjualan beraneka maca jajanan. Mulai gorengan, kue, lumpia, mie goreng, nasi krupuk dan aneka makanan kecil lainnya dan tidak lupa beraneka macam jenis minuman mulai kopi, es jeruk de el el. Kelihatan remeh dan simpel memang bahkan mungkin banyak orang akan memandang sebelah mata profesinya. Dimana hanya seorang pedagang yang mengadu nasib diruangan kecil nempel di dekat bengkel dan ditengah-tengah pabrik.

Suatu hal yang membuat saya tercengan dan bedecak kagum seolah-olah sulit untuk bernafas dan merasa malu pada diri sendiri jika nantinya kalah sama ini bapak. Ya terjadilah obrolan singkat karena rasa penasaran yang menggelayuti relung pikiran ini. Ji.. Ji... Ji... ya itulah kebanyakan orang menyapa dan memanggilnya. Saya tanya pada teman kantor saya yang juga akrab dan seumuran denganya. Namanya siapa pak kok dipanggil Ji.. Ji..., di jawabnya dengan ringan tapi membuat saya terbelalak. Namanya buka Ji.. Yani.. dia di panggil Ji.. karena sudah pernah berhaji. Ya budaya dan kebiasaan orang Indonesia kalau orang sudah pernah naek Haji seolah-olah seperti dapat gelar didepan namanya..hehee.. tapi saya tidak mau membahas itu pada kesempatan ini. Yang perlu kita petik adalah ko’ bisa ya bapak ini?? Bahkan tahukah kawan yang terakir saya kesana beliau habis pulang dari Haji untuk yang ke-2 kalinya. Subhanallah seorang penjulan di ruangan 3x4 ini sudah naik haji 2x dalam 5 tahun. Semakin membuat saya bener-bener iri pol-polan dan hati ini benar-benar tidak bisa berkata selain rasa kagum.

Beliau bercerita dengan semangat lika-liku ketika melaksanakan ibadah haji, mualai dari trik strategi keluh kesah dan perbedaan ketika haji pertama dan kedua. Semuanya hanya bisa kudengarkan dengan penuh kekaguman dan semakin menambah semangat hati ini untuk bisa mengunjungi salah satu tempat suci umat muslim. Dari cerita beliau pikiranku melayang jauh membayangkan betapa indah dan luarbiasanya keadaan ibadah disana. Inilah janji Allah Azza Wajalla, bahwa ketika niat kita tulus dan benar serta dibarengi dengan usaha dan semangat tidak ada yang tidak mungkin didunia ini. Jika Allah mengijinkan semua yang tidak mungkin jadi mungkin.

Dari kisah ini kita bisa mengambil banyak hikmah didalamnya:
  • Orang yang kaya dan banyak harta belum tentu naik Haji dan orang yang tidak punya kerjaan yang wah dengan gaji mewah tapi bisa naik haji. Semuanya tergantung pada tingkat keimanan dan niatan masing-masing individu umat muslim. Tidakkah kita lihat berapa banyak orang yang kaya hanya sibuk menghias dan memperbagus rumah serta properti dibanding dibuat pergi ke rumah Allah. Jadi hal yang pertama harus kita tata adalah niat.
  • Jangan pernah menganggap remeh kerjaan dan status orang lain karena bisa jadi mereka lebih mulia dari kita. 
  • Jangan pernah berkecil hati dan terlintas dibenak kita wah.. saya cuman kerja gini gimana bisa naek Haji bisa ini bisa itu. Karena hal ini sama halNya dengan meremehkan Allah Azza Wajalla. Bukankah Allah maha kaya, maha pemurah, maha memberi Rizki dan maha segalanya. Jika kita msih berpikiran seperti itu berarti Iman kita perlu dipertanyakan.
Sekian dulu ah.. sudah lumayan panjang. Sedikit bermanfaat dan dibaca daripada banyak tapi gak bermanfaat dan gak dibaca...

Keep spirit always optimis and do the best on everything...
Somen_49

1.