Laman

Thursday, 30 September 2010

Aku Adalah Aku

Malam ini aku tertidur di lab dan ketika jam 01:29:38 aku terbangun tiba-tiba lab sepi dan laptop di depanku masih menyala menemani aku tidur. Seperti biasa aku melakukan aktifitas rutin di jam-jam segitu sedikit berdo’a pada allah karena pada kisaran sepertiga malam adalah waktu yang sangat baik untuk berdoa. Karena tidak bisa kunjung tidur akupun iseng meletakan jari jemariku di atas keyboard dan mulai menekan tombol-tombolnya untuk mulai menulis sesuatu yang menjadi perenungan dan kegundahan dalam hati dan pikiran.

“Apa sebenarnya sumber motifasi di dalam hidup ini yang tidak pernah bisa hilang dan selalu menemaniku ketika aku mati nanti?”, selam ini banyak orang-orang dan termasuk aku ketika di beri pertanyaan siapakh motifasi besar dalam hidupmu? Dan kebanyakan orang menjawab orang tua, ibu, bapak, pacar, orang sukses, ilmuwan dan lainya. Tetapi bukankah suatu saat mereka akan meninggal dan akan pergi meninggalkan kita?, bukankah bisa saja mereka suatu saat mengecewakan kita?, dan bukankah sangat mungkin ketika hal itu terjadi maka sumber motifasi hidup akan hilang dan akan menjadikan diri kita kehilangan semangat dalam hidup dan meraih impian. Dari situlah aku mulai berfikir seharusnya motifasi hidup aku adalah tumbuh dari diri aku sendiri dan dari hati yang paling dalam, karena ketika motifasi bersumber dari diri saya sendiri akan menemani aku sampai mati nanti.

Tetapi bukanlah hal yang mudah untuk menumbuhkan hal tersebut pada diri kita sendiri. Banyak hal yang sering kali menjadi penghambat, menjadi kendala yang merupakan batu sandungan terbesar atau musuh abadi pada diri kita. Yaitu timbulnya rasa tidak percaya diri, rasa malas, dan menganggap diri sangat kecil dan tidak sehebat orang lain. Prasangka-prasangka itulah yang harus kita buang jauh-jauh dari hati dan pikiran kita. Kalu orang lain bisa kenapa kita tidak bisa, dan janganlah menjadi orang lain dan jangan pernah berubah kaena orang lain. Percayalah akan segala kemampuan dan kekuatan yang ada pada diri kita masing-masing, kaena allah melahirkan kita dalam kondisi yang luar biasa dengan segala talenta, kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Raymond Erwin pernah menulis, “Berkacalah Pada Diri Sendiri”. “Ketika dua cermin saling berhadapan, muncul pantulan yang tak terhingga. Begitulah ketika kita mau bercermin pada diri sendiri. Akan kita temukan bayangan yang tak berhingga. Bayangan itu adalah kemampuan yang luar biasa, ketakterbatasan yang member kekuatan untuk menembus batas rintanan diri. Berkacalah pada diri sendiri, dan temukan kekuatan itu. Singkirkan cermin diri orang lain. Di sana hanya terlihat kekurangan dan kelemahan kita yang akan memupuk ketidakpuasan saja. Dan ini akan menjerumuskan kita ke dalam jurang kekecewaan. Kita bukan orang lain. Kita adalah kita yang memiliki jalan keberhasilan sendiri. Mulailah hari ini dengan menatap wajah kita masing-masing. Carilah bayangan yang tak terhingga itu. Di sana ada kekuatan yang akan membawa kita ke puncak keberhasilan.”

Bayangkan jika kita melakukan sesuatu yang bukan mencerminkan diri kita. Biasanya hal tersebut dilakukan karena ingin di lihat sempurna dan ingin menjadi seperti yang orang lain inginkan agar orang jadi tertarik pada anda. Bukankah hal itu sangat menyiksa diri, karena kita harus melakukan banyak rutinitas yang cukup menyiksa diri Karena hal itu bukanlah diri kita. Dan ingat biarkan orang lain respek dan tertarik pada diri anda yang sebenarnya bukan respek dan tertarik pada diri anda kaena perubahan anda.

“Bukalah mata sewaktu berjalan, karena bisa saja kita akan bertemu dengan kesempatan. Adapun kesempatan itu sendiri buta. Peganglah erat-erat, karena kesempatan dating dan pergi tanpa memberitahu. (Anonim)”

Wes cukup sekian dulu..wes kesel….
Tulisan ini aku tulis untuk diri aku sendiri dan untuk menyemangati aku sendiri. Tapi semoga orang lain juga bisa ikut bersemangat setelah membacana..

Somen 02:45:48 30/10/2010 www.catatansomen.blogspot.com