Laman

Tuesday, 23 November 2010

Kunci keselamatan adalah bergeraknya roda dakwah

Surat Ali 'Imran: 104-105

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan siksa yang berat."

Sababun-Nuzul
Imam Ahmad meriwatkan hadits dari Abu Mughirah, yang menceritakan bahwa pada suatu hari Abdullah bin Yahya melakukan ibadah haji bersama Mu'awiyah bin Abu Sufyan. Ketika sampai di kota Makkah menjelang shalat Zhuhur Mu'awiyah menyampaikan bahwa Rasulullah pernah bersabda,
"Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani berpecah-belah dalam urusan agama mereka menjadi tujuh puluh dua golongan. Sedangkan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan (firqah). Di antara semua firqah itu hanya ada satu yang masuk surga, yaitu para pengikut ahlus-sunnah wal jama'ah."
Masih menurut keterangan Rasulullah, demikian Abu Sufyan melanjutkan, bahwa pada akhir zaman nanti akan lahir di tengah-tengah ummat Islam beberapa golongan orang yang suka ikut-ikutan (fanatik) sebagaimana anjing mengikuti tuannya, sehingga keringat dan tenaga mereka terkuras tanpa membawa hasil.

"Demi Allah, wahai orang-orang Arab, sekiranya engkau tidak mau mematuhi ajaran yang dibawa oleh Nabimu saw tentu tidak ada seorangpun di dunia ini yang akan mengikutimu."
Sehubungan dengan sabda Nabi di atas, Allah swt menurunkan ayat 104 dan 105 yang berisi perintah dakwah, yaitu memerintahkan dan mengajak ummat manusia ke arah kebaikan dengan amar makruf nahi munkar, serta menciptakan persatuan dan kesatuan.
Dakwah individu
Lafadz 'min' dalam kalimat 'waltakun minkum ummatun' pada ayat 104 di atas mempunyai dua pengertian. Pertama sebagai penjelas, kedua sebagai tab'idh (menunjukkan sebagian). Sebagai penjelas, maka terjemah ayat di atas adalah: "Jadilah kamu wahai kaum mukminin sebagai ummat yang menyeru kepada kebaikan, dst... "
Makna kedua diwakili oleh Ibnu Katsir yang menafsirkannya lebih jelas lagi, 'jadilah kamu sekelompok orang dari ummat ini yang melaksanakan kewajiban dakwah.'
Dengan demikian, baik dalam pengertian pertama maupun kedua, dakwah merupakan kewajiban individual. Setiap individu wajib melaksanakan dakwah, sesuai dengan kemampuannya. Sebagai fardhu 'ain, maka jika dilaksanakan, Allah pasti akan mengganjarnya dengan pahala. Sebaliknya jika ditinggalkan, maka Allah akan menimpakan kepadanya dosa.
Itulah sebabnya bila mengkaji sejarah perjalanan Islam pada masa-masa awal, utamanya pada kurun sahabat Rasulullah, kita tidak menjumpai seorang sahabatpun yang tinggal diam tanpa melakukan dakwah. Jika diurut-urut, beberapa orang yang belakangan masuk Islam ternyata merupakan hasil dakwah dari sahabat yang telah muslim terlebih dahulu. Abu Bakar, Ali, Khadijah, dan beberapa nama lainnya, adalah mereka yang banyak merekrut anggota jama'ah.
Sebagai pedagang, Abu Bakar tentu punya banyak kenalan atau kolega bisnis, termasuk para pekerja dan budak. Salah seorang koleganya adalah Utsman bin Affan, yang diserukan masuk Islam, dan berhasil. Demikian juga kalangan pekerja dan budak. Bukankah yang membebaskan Bilal bin Rabah adalah Abu Bakar?
Keberhasilan yang paling besar dari dakwah Rasulullah adalah ketika beliau berhasil menjadikan orang yang didakwahi menjadi pendakwah. Semua sahabat Rasulullah adalah aktivis dakwah. Inilah rahasianya, kenapa Islam berkembang dalam waktu yang sangat cepat.
Bila kita ingin mengulang sukses beliau, tidak ada alternatif lain, kecuali menjadikan kaum muslimin seluruhnya sebagai aktivis dakwah. Kaum muslimin wajib secara individual menjadikan dirinya aktivis dakwah. Jika tidak, berarti satu kewajiban agama telah ditinggalkannya.
Bukankah Rasulullah telah bersabda,
"Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, hendaklah mengubah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman." (HR Bukhari dan Muslim). Pada riwayat yang lain ditambahkan, 'Dan setelah itu tidak ada iman sedikitpun juga.'


Tanggung jawab Dakwah
Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa sekiranya tidak ada lagi dakwah, maka perpecahan di kalangan ummat pasti terjadi. Bibit-bibit perpecahan itu sangat banyak, yang suatu saat muncul menjadi perselisihan, pertentangan, bahkan permusuhan di antara kaum muslimin sendiri.
Untuk mencegahnya, jalan yang ditunjukkan Allah adalah dengan berdakwah, mengajak semua orang kembali kepada Allah, da'a ilallah. Masalahnya sekarang, dakwah sering menjadi alat kepentingan. Dakwah tidak lagi mengajak kepada Allah, tapi menyeru orang kepada golongan, organisasi, kelompok atau firqah tertentu.
Dakwah telah berubah fungsinya menjadi sekadar alat kampanye atau promosi firqah tertentu. Akibatnya, bukan persatuan dan kesatuan ummat yang dihasilkan, tapi justru perpecahan. Terjadi tarik-menarik jamaah antara satu da'i dengan da'i yang lain. Dalam tarik-menarik ini tak jarang terjadi saling menjelekkan atau saling menjatuhkan. Fitnah merebak ke mana-mana. Praktek kotor semacam ini sudah lazim terjadi.
Dakwah harus dimurnikan dari semua interes dan kepentingan kelompok dan golongan. Dakwah bukan untuk memperbesar pengaruh, juga bukan sekadar menambah jumlah pengikut. Apalagi jika untuk kepentingan politik sesaat. Dakwah harus diarahkan semata-mata kepada Allah. Tentang apakah orang yang didakwahi nantinya mendaftar menjadi salah satu anggota atau memilih organisasi yang lain, itu bukan urusan dakwah. Allah berfirman:
"Katakanlah, 'Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah kepada Allah dengan penuh bashirah. Maha suci Allah, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik." (QS Yusuf: 108)
Jika dakwah dirancang untuk memperbesar pengaruh dan menambah pengikut, maka kegiatan itu telah menyimpang dari garis dakwah yang benar. Kegiatan ini tidak bisa disebut dakwah, meskipun dalam penyampaian pesan-pesannya selalu mengutip ayat al-Qur'an dan hadits Nabi.
Membersihkan kegiatan dakwah dari para pemboncengnya ini merupakan tugas dan tanggung jawab kita. Terlalu suci bila dakwah dijadikan alat politik jangka pendek. Kita harus membersihkan tempat-tempat suci dari kegiatan para pembonceng ini. Jangan sampai masjid dijadikan arena promosi dan medan kampanye golongan tertentu. Jika demikian, dikhawatirkan masjid justru menjadi sumber perpecahan ummat. Seharusnya di masjid kita bersatu, dan memancarkan persatuan ke segenap penjuru. Akan tetapi jika tidak hati-hati justru masjid bisa menjadi sumber bencana.
Agar dakwah tetap murni, maka materi dakwahnya harus benar, demikian pula cara-caranya. Tidak kalah pentingnya adalah meluruskan niat dan motivasi. Tiga hal ini harus menjadi acuan dan alat evaluasi bagi setiap da'i. Pertama, niatnya harus dimurnikan, ikhlas semata-mata karena Allah, bukan untuk mencari pengaruh, menambah jumlah pengikut, juga meningkatkan pendapatan.
Kedua, materi dakwahnya harus benar. Katakanlah yang benar sebagai kebenaran, yang salah sebagai kesalahan. Jangan memutar-balikkan ajaran. Jangan menyampaikan sesuatu yang belum ada ilmunya, dan tinggalkan yang masih ragu-ragu.
Ketiga, metode dakwahnya harus benar. Kebenaran yang disampaikan dengan cara yang salah hasilnya pasti kurang baik. Bahkan bisa jadi berubah menjadi fitnah. Pilihlah waktu, tempat dan cara yang pas untuk menyampaikan suatu dakwah. Allah berfirman:
"Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan penuh hikmah dan mau'izhatul-hasanah serta bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS.An-Nahl: 125)
 

Buah Dakwah
Jika kita melaksanakan dakwah dengan benar dan sungguh-sungguh, hasilnya tidak kecil. Buah dakwah dapat kita nikmati, baik semasa di dunia ini maupun kelak di akhirat. Adapun buah dakwah itu, antara lain adalah datangnya pertolongan Allah.
Sungguh tenaga, fasilitas, kemampuan, dan sumber daya yang kita miliki masih jauh bila dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh para musuh kebenaran. Akan tetapi dengan izin-Nya, jika kita serius meretas jalan dakwah, maka Allah segera mengulurkan pertolongan-Nya. Tidak perlu dikhawatirkan, sebab Allah sendiri yang memberi jaminan, sesuai firman-Nya: "Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu mau menolong dan membela dienullah, niscaya Allah akan menolongmu dan menguatkan pijakan kakimu." (QS Muhammad: 7)
"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS al-Hajj: 40)
Buah dakwah yang lain adalah lepasnya siksa dunia dan akhirat dari diri kita. Allah membebaskan kita dari siksa dunia dan akhirat jika kita selalu dalam jalan dakwah. Sebaliknya jika kita tinggalkan jalan ini, maka tersebarlah kejelekan dan kerusakan di muka bumi. Bila kerusakan sudah merata di semua wilayah dan di semua sektor kehidupan, maka itulah sesungguhnya siksa. Meskipun kita tidak melakukan kejelekan, kita akan ditimpa akibatnya. Allah berfirman 
Maka tatkala mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang mencegah dari perbuatan jahat dan kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik." (QS al-A'raaf: 165)
Tentang meluasnya bencana jika kerusakan telah merata di muka bumi ini, dan nasib orang-orang yang tidak termasuk melakukan kejahatan, Rasulullah memberikan perumpamaan yang cocok sekali. Beliau bersabda:
"Perumpamaan orang yang berpegang kepada undang-undang Allah dan orang-orang yang melanggarnya adalah bagaikan melakukan undian untuk menempati kapal. Maka sebagian ada yang di atas dan sebagian ada di bawah. Mereka yang berada di bawah apabila hendak mengambil air harus melewati penumpang yang berada di atas. Mereka berkata, "Kalau kita bisa melobangi kapal, tentu kita tidak perlu naik ke atas dan mengganggu penumpang yang ada di situ!" Kalau penumpang ini dibiarkan tentu kapal akan karam dan akan tenggelam seluruh awak kapal. Namun apabila bisa dicegah, maka mereka akan selamat dan selamat pula seluruh awak kapal." (HR Bukhari)
Tentu saja masih banyak buah dakwah yang lain, yang kesemuanya pasti menguntungkan, baik bagi diri sendiri maupun orang banyak, di dunia maupun akhirat. Semoga kita termasuk kelompok aktivis dakwah