Laman

Monday, 29 November 2010

3 Kakek Paruh Baya

Jam menunjukan pukul 16.15 dan bell berbunyi menandakan jam pulang kerja. Namun aku memutuskan untuk tidak pulang karena menunggu approvel buat OT besuk pagi, setelah aku buka system dan aku baca dengan teliti ternyata permohonan OT aku di reject oleh bos. Akupun memutuskan untuk pulang, dengan terburu-buru aku masukan ID card dan aku tempelkan jari telunjukku pada alat kecil otomatis sebagai absensi para karyawan. Ternyata aku kurang beruntung bus jemputan untuk jam 16.00 sudah berangkat semua dan bus jemputan ada lagi pada pukul 18.30. Aku memutuskan utuk menuju ke masjid sambil menunggu buka puasa dan menunggu bus jemputan.

Setelah selesai sholat dan memakan sepucuk roti aku naik bus yang mengantarkan aku pulang ke kos. Berkali-kali aku melihat jam tangan di tangan yang terikat di tangan kiriku. Aku berharap tidak macet di tol dan bisa pas jam 7 sampai kos sehingga bisa langsung berangkat ke masjid untuk sholat berjamaah di masjid. Namun jalanan sedikit kurang bersahabat, terjadi sedikit macet di pintu tol keluar dan jarum jam di tanganku terus berputar dan membuatku semakin cemas jika tidak bisa mengejar waktu untuk sholat berjamaah. Alhamdulilah bus dapat keluar dari zona macet dan sampai di sekitar kos aku turun dari bus dengan sedikit terburu-buru. Jalanan yang ramai saya terjang dan beberapa mobil dan sepeda motorpun mengerem mendadak akibat ulahku.

Sampai di kos kubuka kunci pintu rumah dan kamar kos, aku lempar tas kemudian aku mengambil air wudu dan berangkat ke masjid. Alhamdulilah ternyata belum azdan isyak, ketika masuk ke masjid aku melihat anak-anak kecil di sudut ruangan masjid sedang belajar mengaji dengan di tuntun oleh seorang guru ngaji yang telaten dan penuh kesabaran. Ketika aku masuk keruang utama masjid aku melihat sepetak papan putih dan empat orang kakek yang sudah paruh baya. Aku sangat takjub, kagum, terkejut, salut, malu, pikiran dan hatiku di buat terhenti sejenak melihat kejadian yang selama ini belum pernah aku lihat. Keempat kakek tersebut ternyata belajar tajuwid yaitu tata cara membaca al-Qur’an yang benar layaknya anak-anak TPQ. Dari keempat kakek tadi satu sebagai guru (orang tersebut adalah uztad yang biasa menjadi imam di masjid tersebut) dan yang tiga menjadi murid. Kira-kira umur mereka ada yang di atas 60 tahun dan yang satu sekitar 55 tahun.
Mereka dengan semangat belajar al ilmu di umur mereka yang sudah tidak muda lagi, mereka menirukan dengan baik ucapan-ucapan dari pak uztad layaknya anak-anak TPQ. Sepidol merah yang di pegang pak uztad memenuhi sepetak papan putih yang telah penuh berisi tulisan arab yang sepintas aku lihat sedang belajar Idghom Bigunnah. Aku langsung tertunduk malu pada diriku sendiri, di umurku yang masih di bilang muda kalah dengan kakek-kakek dalam belajar tajuwid. Meskipun mengerti tajuwid tapi bacaanku masih kacau dan aku hanya belajar sendiri semenjak di ibu kota ruwet ini. Tidak seperti masih di kos Surabaya aku memiliki teman yang hampir hafiz al-Qur’an jadi aku bisa tiap hari belajar darinya (jadi pengen balik ke Surabaya..hehhee.. :D). Kalau mereka yang sudah berumur bersemangat mengapa kita yang masih muda tidak bersemangat untuk belajar ilmu agama. 

Kita selalu di sibukan belajar ilmu dunia yang tidak bisa menyelamatkan kita nantinya. Tidak salah jika banyak anak muda sekarang meskipun bertitel sarjana, master bahkan Doktor tetapi tidak bisa membaca al-Qur’an dengan benar bahkan ada yang tidak bisa membaca al-Qur’an sama sekali. Mereka membiarkan al-Qur’an tertata rapi di laci atau etalase rumah yang hanya di gunakan sebagai hiasan rumah. Para pemuda yang begitu penasaran dan semangat belajar siang malam ketika tidak bisa matematika, fisika, biologi, bahasa inggris dan banyak ilmu-ilmu lainya. Mereka pontang-panting Tanya sana-sini agar bisa menguasai ilmu tersebut. Bahkan tidak sedikit yang rela mengeluarkan uang banyak untuk kursus dan menyewa gur privat untuk menajari sampai bisa dan sampai dapat nilai 90-100.

Tidak ada yang gelisah ketika tidak bisa membaca al-Qur’an. Tidak ada yang penasaran apakah sholatku sudah benar. Apakah bacaan al-Qur’anku sudah benar. Apakah tata cara ibadahku sudah benar. Apakah adab-adab yang di ajarkan dalam islam dan banyak hal lain yang tidak sedikitpun timbul penasaran dan rasa ingin tahu dari generasi muda. Tidak ada yang sibuk atau gundah gulana untuk mencari guru privat untuk mengajari baca al-Qur’an dengan tajuwid yang benar. Tidak ada yang mencari guru privat untuk belajar ilmu agama dan tidak ada yang gelisah jika tidak hadir di majelis-majelis taklim. Generasi muda begitu tenang dan santai meskipun tidak bisa membaca al-Qur’an. Tidak salah jika banyak generasi muda yang strees oleh dunia, tidak salah jika banyak pejabat yang menyimpang dan tidak salah jika muda mudi jaman sekarang suka hura-hura. Tidak salah jika muda-mudi memakai baju renang dan pakaian yang kekurangan kain di mall dan di jalanan.

Marilah kawan muda para pelajar, mahasiswa dan calon generasi muda yang hebat-hebat kita tanamkan rasa penasaran dan terus bertanya-tanya pada diri kita tentang kebenaran ilmu islam kita, agar kita bisa tenang dan bahagia di dunia dan akhirat kelak. Marilah kita tanamkan rasa penasaran kita tentang ilmu agama layaknya kita penasaran dengan rumus-rumus matematika, fisika yang buat temen-temen stress. Apakah kita ingin seperti kakek-kaek tadi yang baru belajar di umur mereka yang sudah tidak muda lagi. Apakah kita tidak mau pada mereka yang terus belajar tidak kenal umur dan tidak ada rasa malu dan gengsi pada diri mereka.