Laman

Tuesday, 8 June 2010

Surat Fahri (Istiqomahlah wahai sahabatku)

Ini adalah kisah nyata dari pengalaman lika-liku hidup sahabat karibku dari kecil. Disini aku sengaja tidak menjelaskan lebih detail identitas dan seluk beluk sahabatku. Namun aku lebih mengedepankan hikmah dan manfaat dari kisah sahabatku ini. Terus terang aku sangat iri dan kepengen meneledani akhlaknya yang menurutku bisa ku jadikan teladan yang baik minimal untuk diriku sendiri khususnya dan bagi pembaca umumnya. Selamat mengambil hikmah ya.

Dulu pada waktu kecil aku punya sahabat katakan namanya fahri. Dia punya kakak katakan namanya Abdullah Khairul Azzam. Mereka dibesarkan dari lingkungan agama yang kuat. Ibunya adalah seorang guru ngaji di desanya. Ayahnya adalah seorang petani kecil. Mereka dibesarkan dari ekonomi yang pas-pasan. Mereka ditempa untuk bisa hidup mandiri. Fahri kecil menamatkan sekolahnya di MI, kemudian dari MI berlanjut ke MTs salah satu kota di kediri, lalu berlanjut ke SMA. Titik balik perjalanan siu fahri sahabatku itu ketika selepas SMA dia berkali-kali ujian masuk tes gagal. Mulai dari SPMB, STAN, AKMIL, AAL, dan masih banyak tes yang lain yang diapun gagal. Dia benar-benar stress dibuatnya. Mengurung diri di kamar. Ya, begitulah aktifitasnya sehari-hari.

Namun kemudian dia instropeksi diri. Apakah karena selama ini dia telah lari dari Allah? Telah meringsut menjauh dari Allah? Akhirnya dia pun melepas pakaian kotornya dan mengenakan baju ketakwaan. Sejak itu sahabatku yang alim tersebut berubah 370 derajat. Dia sejak itu selalu tahajud, puasa senin kamis dan daud tak pernah ditinggalkan. Selalu solat berjamaah di masjid di awal waktu (10-15 menit sebelum adzan dia sudak duduk manis di masjid menanti2 adzan). Memperbanyak mohon ampun padaNya dengan memperbanyak istighfar. Menjaga kesucian dengan menjaga wudhu adalah perhiasan hidupnya sehari-hari. Batal wudlu, batal wudlu, batal wudlu. Dhuha 12 rekaat adalah uang sakunya sebelum berangkat kuliah. Dia sudah puas kalau hari itu sudah sedekah. Dia pun berusaha membaca dan menghafal qur'an. Itulah standard keimanan yang ditetapkan fahri untuk dirinya sendiri . Sebetulnya masih ada yang lain namun aku takut tipu daya setan telah merusak keikhlasan hatiku.
(aku menulis kebiasaannnya bukan berarti aku mengunggul-unggulkan sahabatku, tapi aku ingin sama2 memperbaiki diri ini dengan sama2 mengajak kebaikan ke orang lain). Kalau tidak karena takut akan teguranNya karena menyembunyikan ilmuNya dibayar berapapun tanganku takkan mau menulis ini.

(aku tahu betul keseharian fahri karena memang akulah temannya yang paling dekat dengannya. Mulai dari teman bermain sejak kecil, teman sekolah, teman mengaji. Bahkan sejak kecil sampai sekarang kalau aku pulang kampung sering tidur di rumahnya sehingga aku sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri oleh orang tua fahri. Karakter khas dari fahri anaknya pendiam, sedikit humoris, dan pemalu.

Ternyata usahanya pun tak sia-sia. Selang beberapa bulan kemudian dia diterima di perguruan tinggi negeri di Indonesia. Bersamaan saat itu kakaknya, abdullah Khairul Azzam pun juga diterima di salah satu universitas tertua di timur Tengah (sebelumnya si Kakak kuliah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam Arabia Jakarta karena memang mereka berasal dari keluarga tidak mampu, si Azzam bertekad untuk kuliah di sekolah yang ada beasiswanya karena tak ingin membebani kedua orang tuanya yang sudah sangat tua yang hanya seorang petani kecil desa. Alhamdulillah di Jakarta kuliah gratis + dapat uang saku. Begitu juga di Timur Tengah juga dapat beasiswa gratis dari pemerintah kerajaan arab saudi).

Selang beberapa tahun merekapun di penghujung akhir kuliah. Si Fahri hampir tamat kuliah. Si azzam karena ada suatu hal masih duduk di semester 2. Jadi adiknya yang justru tamat kulaih duluan. Disamping juga si Azzam disibukkan oleh pekerjaan nyambi buat bertahan hidup di negeri orang. serta untuk membiayai kuliah adiknya di Indonesia, si fahri. Sungguh alangkah bangganya punya kakak seperti Azzam lebih2 orang tua yang punya anak hebat bermental baja sepertimu wahai Abdullah Khairul Azzam.

Karena sudah hampir 4 tahun dan hampir tamat kuliah si fahri pun kangen dengan kakaknya. Lalu dia menulis curahan hatinya di sebuah diary catatan harian. Aku tahu betul isi surat itu karena akulah orang yang pertama kali diperbolehkan membaca isi surat tersebut olehnya.

Selamat membaca dan mengambil manfaat dari isi surat tersebut teman-teman...



Menjumpai
Kakakku tercinta
Abdullah Khairul Azzam
Di Bumi Kelahiran Rasulullah SAW
Makkah al Mukarramah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Dari pojok kabupaten Kediri tercinta kami tiada hentinya mengirimkan doa, semoga kak Azzam senantiasa sehat, terjaga dari segala keburukan, dan dalam selimut rahmatNya siang malam. Amin.

Kak, alhamdulillah kami semua di rumah baik, sehat wal afiyat, berlimpah rahmat Allah. Ibu alhamdulillah baik dan sehat. Beliau sudah sangat rindu pada kakak. Aku sungguh di hati juga sangat rindu kakak. Beberapa hari lagi aku akan tes kenaikan juz hafalan al qur'an. Beberapa bulan lagi aku insyaAllah akan lulus s1, sekarang lagi mengerjakan Tugas Akhir. Begitu juga tahfidzku insyaAllah kuusahakan tiada mengenal putus asa untuk segera hafal 30 juz. Segala puji bagi Allah. Ini tak lepas dari jasa kakak.

Kak Azzam tercinta,
Selama hampir 5 tahun ini engkau telah menunaikan kewajibanmu menggantikan peran ayah dengan baik semenjak beliau memang sering sakit-sakitan. Aku sangat berterima kasih dan bangga kepadamu kak. Selama ini aku tahu engkau tak lagi memikirkan dirimu kak. Engkau kini yang seharusnya sudah lulus s1 di ummul qura makkah, bahkan sampai sekarang belum juga selesai masih semester 2. Padahal kau sudah 5 tahun di makkah. Aku tahu engkau mengorbankan dirimu dan segala idealisme demi membiayai hidup dan kuliahku.

Kak Azzam tercinta,
Aku sendiri masih ingat telpun kakak ketika kakak berhasil naik tingkat semester 1 di ummul qura makkah. Dalam telpun malam itu kakak mengabarkan kepadaku bahwa kakak adalah satu-satunya mahasiswa Indonesia yang mampu menembus predikat jayyid jiddan dengan dengan nilai IP sempurna 4,00. Aku masih ingat kak, begitu engkau tutup ujung telpunmu aku langsung sujud syukur menangis ikut bahagia. Engkau tahu apa yang dilakukan ibu begitu kuberitahukan kabar gembira tersebut? Sejak saat itu beliau yang sudah usia lanjut melakukan riyadhah puasa daud. Tak sampai 1 minggu beliau selalu khatam membaca al qur'an. Setiap habis sholat subuh beliau duduk berdzikir sampai terbit matahari di masjid depan rumah kita. Ketika aku tanyakan kenapa ibu kok begitu semangat riyadhah seperti itu, beliapun menjawab," Le, awae dewe gak ndue opa-opo. Ibu mung iso dungakne mugo-mugo masmu ne mekkah berhasil golek ngelmu karo sampeyan ben lancar kuliahe lan tahfidze. Iso apal qur'an."

Begitu juga ayah kulihat beliau sering menceritakan keberhasilanmu kepada saudara-saudaranya yang lain mungkin saking bangganya melihat prestasi anaknya yang cuma anak desa seorang petani kecil kurang mampu ternyata bisa mengalahkan ribuan mahasiswa luar negeri ummul qura.

Kak Azzam tercinta,
Memang beberapa tahun sejak ayah sering sakit-sakitan dulu aku merasakan dunia ini sedemikian gelap akan masa depanku. Namun, kau dari negeri para Nabi menguatkanku. Untukmu adikmu ini kau pesankan untuk terus tenang dan konsentrasi belajar. Sejak itu kau datang tiap bulan yang kau transfer lewat bank mandiri ke rekeningku. Dan engkau masih sempat pula mengirim uang untuk ibu di desa. Ibu kerap menangis, aku yakin beliau menangis haru bercampur bangga, setiap kali menerima transferan uang dari kakak.

Tak lama setelah itu aku tahu dengan detail apa yang kakak lakukan di makkah untukku. Kakak bekerja keras menjadi penerjemah buku (meski berkali-kali ditolak penerbit) dan juga pembimbing jamaah haji. Kakak rela mengorbankan studi kakak demi adikmu ini. Aku tahu itu pasti sangat berat bagi kakak. Sebab aku tahu mental kakak sejatinya adalah mental berkompetisi dan berprestasi. Sejak MI sampai Madrasah Aliyah kakak selalu rangking 1. Dan karena prestasi kakak itu, di setiap upacara pelepasan kelulusan, dari MI sampai Madrasah Aliyah, ibu selalu diminta pihak sekolahan untuk maju ke panggung pelepasan, sebagai wali murid dari siswa yang paling berprestasi.

Akupun masih ingat ketika dulu kakak dinyatakan sebagai lulusan terbaik seangkatan kakak di MAKN Denanyar Jombang sehingga engkaupun diminta pihak sekolahan untuk tampil berpidato bahasa inggris mewakili teman-teman angkatanmu di hadapan bapak menteri agama saat itu , Prof. Dr. Said Agi Munawwar, Lc yang dihadiri ribuan tamu undangan yang lain dalam upacara pelepasan wisudawan MAKN Denanyar Jombang.

Sungguh jika aku mengingat peristiwa itu aku langsung menitikkan air mata terharu bangga punya kakak hebat sepertimu, begitu juga ibu yang saat itu turut hadir menyaksikan engkau mendapat piagam penghargaan dari bapak menteri atas prestasi-prestasimu. Kulihat ibu yang saat itu duduk di sampingku berkali-kali menyeka air matanya ketika mendengar pengumuman engkau dinobatkan sebagai wisudawan terbaik oleh bapak KH. Aziz Masyhuri selaku kepala sekolah MAKN Denanyar saat itu. Dan karena itu pula engkau mendapat beasiswa sekolah ke India, Sudan, Brunei Darussalam dan engku pun tinggal memilih sekolah mana yang kau suka. Namun, kesempatan emas itu gagal hanya gara-gara engkau tak punya uang sekedar untuk membeli tiket pesawat terbang mengingat kondisi ekonomi orang tua kita saat itu yang memang benar-benar tidak mampu. Sebenarnya dulu ibu sudah berusaha mencarikan hutangan buat membelikanmu tiket pesawat terbang, namun ternyata engkau lebih memilih tidak jadi berangkat daripada ibu harus mencari hutang ke orang lain

Demi Allah, jika aku mengingat peristiwa itu hatiku terlecut untuk ikut2an membahagiakan ayah ibu lewat hafalan qur'anku karena hanya itulah jalan terbaik yang bisa kulakukan untuk membahagiakan mereka.
Kak azzam,
Sungguh, saat mengetahui hal itu aku menangis. Nun jauh di sana, di negeri para Nabi kakak mati-matian menerjemah buku dan menjadi pembimbing jamaah haji demi aku. Sungguh kak, semangatku untuk survive, untuk maju dan berprestasi semakin terlecut, terlecut dan terlecut. Hari berganti hari matahari terus terbit dan terbenam. Sudah 5 tahun kau membanting tulang dan berkorban.

2 minggu yang lalu kau telpun aku mengabarkan keadaanmu di sana baik-baik saja. Namun saat itu aku dengar suaramu agak berat yang menandakan engkau sedang tak enak badan. Aku yakin engkau pasti kelelahan membimbing jamaah haji. Sungguh, sebenarnya pada malam saat kau telpun aku hatiku terenyuh menangis yang sengaja ku tutupi dalam tiap tutur kata senyumku karena rasa kasihanku padamu duhai kakakku. Engkau rela berkorban bekerja tak kenal lelah demi aku sampai-sampai kesehatanmu sendiri tak kau pikirkan.

Kak Azzam tercinta,
Aku tahu sebentar lagi kakak akan ujian. Sudah saatnya kakak menatap masa depan kakak. Aku berharap saat ini kakak kembali konsentrasi ke studi kakak. Kakak harus segera selesai. InsyaAllah setelah ini aku berusaha takkan menggantung diri padamu kak. Aku akan berusaha sendiri mencari penghasilan sekuat semampuku karena aku tak ingin menyusahkanmu lagi. Aku menyadari selama ini aku terlalu banyak menjadi beban bagimu. Sudah saatnya engkau memikirkan masa depanmu sendiri. Jika ada rejeki alokasikan saja untuk membeli buku-buku rererensi yang pasti sangat kakak butuhkan saat ujian nanti.

Oh ya mengenai calon pendamping hidup yang dulu pernah kakak pesankan padaku sudah kuusahkan. Beliau adalah teman aktifis dakwah kampusku sendiri. Namun sayang kak aku kalah start ternyata beliau sudah dikhitbah orang lain. Akhirnya aku tak bisa berbuat banyak karena aku tak ingin mendzalimi saudaraku sesama muslim. Bersabarlah kak, jangan khawatir masalah jodoh. Aku akan bantu nyari akhwat lain yang insyAllah cantik lahir-batin, setia dan penurut yang kelak akan menemanimu belajar di makkah, sehingga engkaupun bisa menuntut ilmu dengan tenang di sana.


Kak Azzam tercinta,
Harapanku kakak bahagia membaca suratku ini. Ayah ibu titip salam kangen tiada taranya. Ini dulu ya. Selamat menempuh ujian. Semoga lulus dan segera pulang ke tanah air dengan gelar doktormu. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan taufikNya pada kakak. Amin



Wassalam,



Titip tetes air mata bangga,
Adikmu,


Fahri

Tulisan Diatas ditulis oleh: Misbahul Ulum