Laman

Friday, 30 September 2016

S A N G T E L A D A N

Tepat 50 hari setelah peristiwa penyerbuan pasukan gajah ke Makkah, usia kandungan Aminah telah mencapai 9 bulan. Detik-detik kelahiran sang buah hati kian mendekat. Aminah mulai merasakan ada yang bergerak-gerak cepat di dalam perutnya. Semakin lama semakin menguat. Aminah pun tiada kuasa menahan sakit. Dia segera berbaring di tempat tidur. Keringat mengucur deras dari tubuhnya. Tangannya mencengkeram kain selimut, menahan rasa sakit yang teramat sangat.

Tak lama berselang, keluarlah sesosok bayi mungil dari rahim Aminah.

Ada riwayat yang mengatakan tali pusar bayi itu telah terpotong dan kemaluannya telah dikhitan.

Ada juga ulama yang berpendapat bahwa Muhammad shallallah alaihi wa sallam kecil dikhitan oleh kakeknya.

Namun, kata al-Hafizh Ibnu Katsir dalam al-Fushul fi Sirah, tidak ada satu pun riwayat yang shahih tentang pusar dan kemaluan bayi tersebut telah dikhitan ketika lahir.

Hari itu, Senin, 12 Rabiul Awwal -bertepatan dengan 22 April 571 M menurut penelitian seorang alim terkemuka, Muhammad Sulaiman al-Manshurfuri- seorang anak yang akan mengubah peradaban dunia, telah lahir. Aminah berjuang sendirian melahirkan Muhammad, tanpa didampingi suaminya tercinta.

Aminah segera mengirim utusan ke Abdul Muththalib, untuk mengabarkan kelahiran cucunya. Begitu mendapat kabar itu, Abdul Muththalib segera menjenguknya. Setibanya di rumah Aminah, dia menyaksikan pemandangan menakjubkan. Tembikar tempat bayi Muhammad diletakkan, tetiba saja terbelah.

Abdul Muththalib segera menimang cucunya. Dia tahu kelak Muhammad akan menjadi manusia besar, menurut kabar dari Raja Yaman, Saif bin Dzi Yasn, serta Umayyah bin Abu Shalt, dan orang² yang memahami Taurat dan Injil.

Sang kakek langsung memboyong cucunya itu masuk Ka'bah, seraya berdoa dan bersyukur kepada Allah. (Ibnu Hisyam).

To be continued…
Silakan dishare.

[The Great Story of Muhammad shallallah alaihi wa sallam, hal. 69].