Laman

Monday, 6 December 2010

Rumus Mengatasi Beban dan Tekanan Hidup

Dalah hidup ini setiap orang memiliki cobaan dan tekanan hidup yang berbeda-beda dan memiliki cara yang berbeda pula untuk mengatasi semua permasalahan dalam hudupnya. Tidak banyak yang bisa berhasil keluar dari tekanan hidup dan ada pula yang sampai mengalami depresi dan sampai setress. Dari permasalahan inilah saya coba menghubungkan dengan suatu rumusan yang aku dapatkan di masa studi di waktu smu maupun kuliah untuk mencoba mencari solusi dari permasalahan tersebut. Rumusan tersebut adalah rumus tekanan, di mana tekanan sama dengan gaya di bagi satuan luas.

     Di mana:   F = Gaya (N)
                     A = Luasan Permukaan 



 ‘Di mana tekanan di pengaruhi oleh gaya yang di terima dan luasan permukaan, semakin besar gaya yang di berikan dengan luasan yang tetap maka tekanan yang terjadi juga semakin besar. Namun jika gaya yang di terima besar luasan yang di gunakan untuk menahan besar pula maka tekanan yang terjadi tidak mengalami peningkatan yang berarti bahkan semakin memperluas luasan maka tekanan yang terjadi semakin kecil.’
Dari filosofi tersebut saya coba membuat formulasi untuk mengatasi tekanan hidup pada diri kita sebagai manusia.






Di mana:   F = Gaya ( beban hidup, tekanan, masalah, dan segala hal yang membuat manusia stress)
                A = Luasan ( Kelapangan dada dan hati serta keiklasan pada diri manusia )


Dari formulasi tersebut sangatlah jelas dan mudah untuk kit abaca bersama-sama bahwa segala beban hidup ataupun tekanan hidup yang kita terima tidak akan berarti apa-apa pada buat kita asalkan kita mampu untuk menambah keluasan dan keiklasan hati kita untuk menerima itu semua dengan senang hati. Jadi jika beban hidup kita semakin besar dan seolah-olah paling besar di diunia manusia maka kita harus semakin memperluas hati dan keiklasan kita sehingga senyum lebar terus berkembang dan rasa putus asa tidak pernah muncul sedikitpun di hati kita. Jadi berat atau ringan beban hidup yang kita miliki bukanlah orang lain yang menentukan dan bukan pula salah takdir hidup kita, namun yang menentukan berat ringan benban hidup kita adalah diri kita sendiri. Cara pandang kita terhadap segala hal yang menimpa diri kita adalah kuncinya. Jika kita berpikiran sempit dan menganggap hal kecil itu berat maka akanterasa berat namun jika hal yang berat kita anggap kecil dan ringan semuanya terasa ringan.

Bukankan Allah telah memberitahukan pada kita melalui Al-Qur’an dan As-shunah bahwa tidak ada yang sia-sia yang Allah ciptakan di dunia ini. Baik itu musibah, derita, cobaan, kesenangan, harta, wanita, jabatan dan banyak hal lainya yang telah Allah berikan tidak ada yang sia-sia. Allah memberikan kita sakit agar kita bisa merasakan betapa nikmtanya sehat. Allah memberikan kita musibah agar kita bisa merasakan betapa nikmatnya rasa syukur. Allah memberikan kita kesulitan agar kita tahu betapa nikmatnya kemudahan dan lainya dan lainya.

Untuk memperluas hati dan menjadikan hati kita tetap tenang dan iklas menerima semua tekanan hidup adalah dengan cara melakukan Qiyamul Lail (SHolat Tahajud). Karena Qiyamul lail dapat menciptakan kebahagiaan jiwa dan kedamaian di dalam dada. Rosulullah telah menyebutkan dalam suatu hadits sahih bahwa seorang hamba yang bangun tengah malam, ingat Allah, kemudian mengambil air wudhu’, kemudian melakukan shalat, maka dia akan semakin energik dan jiwanya tenang.

‘Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam’ (Qs. Adz-Dzariyat:17 )

‘Dan, pada sebagian malam hari bershalat tahajjudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu.’
 ( Qs. Al-Isra:79 )

Qiyamul lail akan menghilangkan penyakit dari tubuh. Ini adalah hadits sahih yang di riwayatkan Abu Daud: ‘wahai fulan, janganlah engkau menjadi seperti si fulan. Dulunya rajin melakukan bangun malam, namun kemudian dia meninggalkannya.’

Dalam hadts lain si sebutkan: ‘Sebaik-baik hamba adalah pada saat dia melakukan Qiyamul Lail’
Sedih putus asa dan menangisi hal-hal yang menimpa kita justru akan membuat kita semakin lemah dan hal itu merupakan suatu perbuatan yang sia-sia. Karena semua yang ada pada diri kita dan yang ada di dunia bersifat sementara. Bukankah setelah malam sudah ada siang yang siap menggantikan di pagi hari, bukankah setelah sakit sudah ada kesembuhan yang siap menyambut, bukankah setelah kemiskinan sudah ada kecukupan yang siap menyambut dan banyak hal yang lain. Sudah jelas sekali segala yang ada di dunia ini bersifat sementara, jadi tidak perlu kita bersedih dan meresa terbebani dengan itu semua.

‘Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali wajah-nya ( ALLAH )’ ( Qs. Al-Qashash:88)

‘Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan, tetap kekal wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan’ ( Qs. Ar-Rahman:26-27).

‘Orang yang menyesalkan keduniannya tak ubahnya seperti anak kecil yang kehilangan mainannya’
( Dr. ‘Aidh al-Qarni)

Jadi kawan sekalian marilah kita bersama-sama luaskan dada dan hati kita serta kita paksa dan kita paksa hati kita untuk iklas atas semua takdir Allah dan segala beban dan tekanan hidup kita.

Salam Hangat Selalu
somen