Laman

Saturday, 13 November 2010

Belajar pada Pohon


Suatu hari saya mendapat cerita dari seorang sahabat dekat. Dia tinggal di kota lain di sebuah negeri empat musim. Jangan pernah tanya siapa, karena dia tidak mau disebut-sebut namanya. Ini cerita tentang pergulatan batinnya dalam mengenal Tuhan. Mungkin ada pelajaran yang bisa kita ambil.

Dia punya seorang guru spiritual yang juga masih muda, namun memiliki ilmu dan hikmah yang sangat dalam. Dia bertemu dengan gurunya, kira-kira sekali dalam sebulan. Setiap pertemuan berikutnya, sang guru selalu bertanya : bagaimana perkembangan dan pengalaman selama sebulan ini? Ada bahan apa yang bisa diambil hikmahnya sekarang? Selalu begitu.

Nah, terakhir sebelum berpisah lama dengan gurunya, dia juga sempat bertemu dan sang guru memberi tugas baru. Tugasnya adalah agar dia belajar menjadi manusia. Manusia dalam arti sebenarnya, yaitu manusia sebagai wakil Tuhan, sebagai khalifah di muka bumi. Dan untuk menjadi khalifah dia harus mengenal yang diwakilinya, mengenal Tuhannya. "Kenali sifat-sifat Tuhan. Jagalah hatimu, ucapanmu, dan akhlakmu sehingga mencerminkan sifat-sifat Tuhan. Tuhan Maha Suci, Maha Pengasih, Maha Penyayang... Tidak usah pusing-pusing memikirkan caranya, cukup jalani saja hidupmu apa adanya. Tidak usah banyak meminta. Nanti kau akan menemukan sendiri."

Alkisah, sahabat saya ini harus pergi ke negara lain karena urusan pekerjaan. Sebelumnya dia memulai investasi, bisnis. Teman-temannya sudah sukses, dan dia lihat sendiri buktinya. Ada sedikit uang, beberapa belas juta, dia investasikan. Kemudian dia berniat untuk menambah investasi. Dalam hatinya, jika investasi sukses, dia bisa mencapai kebebasan finansial, sehingga bisa beramal dan membantu orang lain dengan lebih banyak.

Dia memohon petunjuk dulu kepada Allah. Apakah diperbolehkan investasi ini. Jika boleh, mohon dimudahkan. Jika tidak, mohon dijauhkan. Ternyata proposalnya ke bank disetujui, dengan jaminan mobil hasil usahanya selama ini. Investasi pun bertambah. Lalu dia berangkat.

Namun tidak lama setelah dia bekerja di kota baru, datang kabar buruk kalau bisnis yang diikutinya kolaps. Dia kaget, dan mulai khawatir. Dia ingat hal-hal yang diajarkan oleh gurunya. Lalu dia berdzikir dan berdoa. Maklum hanya itu yang bisa dia lakukan dari jauh. Tidak mungkin dia pulang dan menyelesaikannya. Dia mengadukan semua pada Tuhan, dan berharap semoga kondisi menjadi lebih baik. Rajin sekali dia berdoa, sehingga dia rasakan kenikmatan dalam hatinya yang jarang dirasakan sebelumnya. Hati yang terasa sejuk, seperti disiram es ketika berdzikir. Kekhawatirannya hilang, berubah menjadi syukur. Syukur karena diberi cobaan dan diberi kenikmatan iman dalam dzikirnya.

Beberapa hari kemudian berita baru datang. Kondisi tidak menjadi lebih baik, tetapi lebih buruk. Modal yang diinvestasikannya terancam tidak bisa kembali. Boro-boro untung, yang mungkin terjadi adalah kerugian. Dia yang tadinya sudah tenang, kembali menjadi khawatir. Kemudian dalam kesempatan dzikir setelah sholat, dia pun kembali memasrahkan diri kepada Tuhan. Dia yakin, pertolongan Tuhan sangat dekat. Di balik ujian, pasti ada kemudahan. Dia yakin, ujian ini tidak akan lama, dan pada akhirnya pasti Tuhan akan menyelamatkan investasinya.

Hari berikutnya, berita datang lagi, bahwa kondisi benar-benar semakin tidak bisa diharapkan. Hilangnya modal sudah di depan mata. Dia pun tidak bisa membohongi diri, kalau hatinya benar-benar khawatir dan putus asa. Belum pernah dia rasakan keputusasaan yang sedemikian dalam. Terbayang dalam pikirannya, bahwa di bulan-bulan selanjutnya dia harus membayar hutang ke bank puluhan juta, atas sesuatu yang dia tidak pernah rasakan manfaat dan keuntungannya. Dia tidak tahu dari mana bisa menulasi. Dia mulai berprasangka buruk kepada Tuhan. Dia merasa malas mengerjakan shalat dan dzikir, karena ternyata kenyataan yang terjadi lain dengan yang diyakininya.

(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu
dari atas dan dari bawahmu,dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.
-- Al Ahzab 10-11.

Bukankah sebelumnya aku sudah mohon petunjuk kepada-Mu ya Tuhan? Bukankah kesejukan dan ketenangan dalam diriku berasal dari-Mu ya Tuhan? Tapi kenapa jadi seperti ini? Dia menjadi ragu, apakah Tuhan masih akan menolongnya. Benar-benar kacau kondisi hati dan pikirannya saat itu.

Namun tidak lama, hanya kurang dari setengah jam dia merasakan seperti itu. Dia pun ingat yang diajarkan gurunya, "Segala rasa siksa, itu datangnya dari setan." Lalu ia pun sadar, bahwa setan dalam dirinya sedang mengelabuhi dan menutup hatinya. Mencoba agar dia berputus asa dan berpaling dari Tuhan. Melalui pikiran dan nafsu, setan menampilkan gambaran yang buruk-buruk tentang apa yang akan terjadi kemudian. Dan setan itu bukan siapa-siapa, tetapi bagian negatif dari keduanya, dari dirinya sendiri.

Dia pun berteriak kepada nafsu dan pikirannya, "Wahai nafsu dan pikiranku. Diam kau sekarang. Kalian mau diselamatkan atau tidak. Kalau mau, mari bersamaku berwudlu dan menghadap Tuhan." Keyakinannya kepada Tuhan tumbuh lagi.

Dalam dzikir dia bertanya kepada Tuhan tentang hikmah semua ini. Kesalahan apa yang telah dilakukannya. Apa yang dimaui Tuhan atas dirinya. "Jika kau hanya mau kenikmatan, dan menolak penderitaan, maka bukan sifat Tuhan yang kau pelihara dalam hatimu. Jika kau mau menjadi khalifah, menjadi wakilKu, maka kau harus mau menerima kedua-duanya dengan ikhlas." Sahabatku pun menangis di hadapan Tuhan. Menyesali kebodohan yang baru saja dia lakukan. Menyesali dirinya yang hampir-hampir masuk dalam golongan orang fasik, orang-orang yang berputus asa terhadap rahmat Allah. "Belum disebut beriman kamu, jika belum pernah diuji dan belum lulus ujian penderitaan." Tangisnya pun semakin dalam. Bukan kesedihan, tetapi rasa syukur yang dalam karena telah diuji oleh Tuhan. Diberi kesempatan untuk menjadi orang beriman. Ada harapan untuk masuk golongan orang beriman.

"Ya Tuhanku, dulu aku tiada, sekarang aku tumbuh dengan lengkap sempurna. Dulu aku tidak punya harta, lalu Engkau anugerahi aku, dan sekarang Kau ambil lagi milik-Mu. Kenapa aku sedih dan khawatir ya Tuhan, atas hilangnya sesuatu yang bukan milikku. Betapa bodohnya aku ini. Betapa aku lupa siapa aku ini. Sungguh jika Engkau tidak ingatkan aku dengan ujian ini, pasti aku termasuk orang yang lupa diri selamanya. Ampuni aku ya Tuhan, atas kebodohanku ini.."

Dalam tangis dan dzikirnya, dia membuka surat Alam Nasyrah. "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu. Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap." Tiada terkira syukur nikmat yang dia rasakan. Nikmat iman dan kedekatan dengan Tuhan. Serasa seperti dalam pelukan kekasihnya. Teringat bagaimana kekhawatiran dalam hatinya dihilangkan, dan diganti dengan syukur. Terbayang saat-saat yang penuh beban kemudian menjadi seringan kapas.

Dan sahabatku pun menjadi tidak lagi peduli dengan kerugian, kehilangan, dan kegagalan. Semua dari Allah, dan sekarang kembali kepada-Nya lagi. Dia pun segera kembali bekerja, seolah tiada masalah yang terjadi. Dia teringat perintah Tuhan agar tidak banyak berangan-angan, khawatir, memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi, dan besarnya nilai kerugian yang dialami. Tidak ada waktu lagi untuk itu, yang ada adalah "mengerjakan dengan sungguh-sungguh urusan yang lain," yaitu pekerjaannya.

Beberapa hari kemudian berlalu dengan normal. Apapun berita tentang investasinya sudah tidak lagi menarik hatinya. Namun sebenarnya masalah masih ada. Utang tetap hutang, dan harus dibayar!

Suatu hari, datang berita lagi, setidaknya untuk saat itu modal dia benar-benar tidak bisa diharapkan kembali. Bisnis yang diikutinya sudah gulung tikar. Mereka yang mengurus bisnis tersebut sedang dalam penyelidikan polisi dan hukum. Dia pun teringat kembali, dari mana harus membayar hutangnya. Minggu depan sudah harus membayar cicilan. Kalau tidak bisa, akan dimasukkan daftar hitam oleh bank dan mobil disita. Dia memang sudah tidak peduli dengan modal yang hilang. Tetapi tetap saja jika tidak bisa melunasi hutang bank, akan timbul masalah.

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu.
-- Ali Imran 186.

Seperti biasa, sahabat saya yang menjadi rajin mendekatkan diri kepada Allah sejak ujian ini, merenung dengan hatinya dan berdzikir. Dia sudah ikhlas dan memasrahkan semua urusan kepada Tuhan. Dia sudah tidak pernah memohon agar diringankan atau dikembalikan modalnya. Dia yakin, semua memang sudah diatur oleh Allah untuknya. Kenapa kok malah meminta aneh-aneh yang mungkin di luar skenario Allah? Oleh karena itu, doanya hanyalah "agar diberi penerang dalam ujian ini, dan diberi akhir yang terbaik."

Dalam dzikirnya dia mendapat penjelasan. Ada beberapa kesalahan yang dia lakukan dalam bisnis itu. Pertama, adanya niatan dalam hati untuk "bebas finansial". Berharap memperoleh pendapatan pasif sehingga kecukupan secara materi dan tidak perlu lagi khawatir soal finansial. Ternyata, hal ini bisa menggelincirkan hatinya pada kemusyrikan yang lembut. Kemusyrikan yang ditimbulkan oleh harta. Bagi Tuhan, jika dia merasa tenang karena kecukupan materi atau "bebas finansial", maka itu sama saja dengan kemusyrikan. Sebab dia merasa tenang bukan karena Allah. Dia tenang karena sesuatu selain Allah. Belum saatnya bagi dia untuk mengalami "bebas finansial" ini, karena pasti akan terjerumus. Suatu saat jika sudah tiba waktunya, pasti akan dianugerahi oleh Allah kebebasan ini. Namun saat itu dia sudah siap, sehingga tidak tertipu oleh materi. Ujian ini untuk mempersiapkan dirinya.

Kedua, adanya keinginan untuk bisa membantu lebih banyak orang dengan banyaknya harta yang dia miliki nanti. Bukankah ini niat yang baik? Benar, tetapi ternyata keinginan ini bisa sangat menipu dengan halusnya. Ada kesalahan dalam keinginan tersebut, yaitu sesungguhnya bukan dia yang membantu manusia lain, tetapi Tuhan. Jika benar terjadi dia bisa membantu banyak orang, pasti dia akan tertipu oleh rasa dirinya, oleh pengakuan dirinya. Pengakuan bahwa "aku telah beramal sholeh dengan membantu banyak orang." Lalu muncul kepuasan dan kebanggaan spiritual yang tidak dia sadari.

Tidak seharusnya dia memiliki rasa seperti itu, karena semua harus dikembalikan kepada Tuhan. Dirinya dipakai oleh Tuhan untuk menolong orang lain, tetapi bukan dia yang menolong. Kesadaran ini harus tumbuh terlebih dahulu, sebelum dia benar-benar menolong orang lain nanti. Dan ujian ini yang mengajarinya. Mengajarkan makna "Bismillah", "Atas nama Allah", "dengan nama Allah". Artinya ketika dia membantu orang lain, saat itu dalam hatinya harus disadari bahwa yang membantu adalah Tuhan, bukan dirinya. Tuhan sedang menggunakan wadahnya untuk membantu orang lain. Dan tidak sepatutnya dia mengakui itu sebagai amal perbuatannya.

"Ya Tuhan, betapa Mulianya Engkau. Aku membeli ujian ini dengan modal yang tidak seberapa, dan itupun dari-Mu, harta milik-Mu. Namun manfaat yang kudapatkan sungguh tiada ternilai dengan apapun. Betapa bodoh jika aku masih menyesali hilangnya harta itu ya Tuhan." Demikian katanya lirih dalam hati.

Happy ending? Belum...

Hutang tetap hutang, dan harus dibayar. Dia pun harus kembali ke alam nyata. Harus tersadar lagi dari perenungan dan zikirnya, dan menghadapi bulan-bulan berikutnya dengan tekanan dan mungkin penderitaan. Apa yang telah dia dapatkan, sekali lagi, harus dibuktikan dengan kenyataan. "Ya Tuhan, ini adalah minggu-minggu yang berat bagiku. Seperti ditiup angin dan badai kencang. Aku sudah hampir tumbang, tapi Engkau selamatkan aku. Dan sekarang pun belum usai ujian ini ya Tuhan. Aku yakin Kau pasti menolong. Aku tidak minta apapun bahkan untuk kau ringankan beban ini. Engkau Maha Tahu akan kemampuanku dan keterbatasanku lebih dari pengetahuanku sendiri. Berilah aku petunjuk-Mu, agar aku tidak khawatir lagi menghadapi hari-hari di depanku dalan mengarungi ujian-Mu ini."

Lihatlah pohon di luar jendela itu. Bukankah kau beberapa minggu ini tertarik memperhatikannya? Kau sudah lihat pohon itu dulu berdaun lebat. Lalu datang musim gugur. Daunnya menjadi kuning, rapuh, kemudian berjatuhan ditiup angin kencang. Musim dingin sudah berlalu, dan sekarang musim semi. Kau lihat daunnya bersemi, dari hari ke hari semakin lebat, dan sekarang seluruh cabangnya telah hijau kembali.

Dari tahun ke tahun seperti itu. Sejak pohon itu kecil, hingga sekarang menjadi besar. Kau lihat, meskipun daunnya berjatuhan dan bersemi lagi, bukan berarti pohon itu semakin kecil. Tetapi semakin besar, semakin tinggi, semakin rindang.

Seperti itulah manusia yang beriman. Mereka tidak akan pernah lepas dari ujian, dari tiupan angin badai penderitaan. Karena itulah makanan bagi keimanannya agar tumbuh subur. Namun selalu "sesudah kesulitan itu ada kemudahan", selalu ada yang bersemi, selalu ada kebahagiaan baru. Seperti pohon yang makin tinggi, iman mereka pun semakin meningkat.

Kadang-kadang ada pohon yang tumbang karena badai dahsyat. Namun selama akar pohon itu masih masuk ke dalam tanah, sumber bahan kehidupan, pohon itu tidak akan mati. Daun dan dahannya akan selalu tumbuh. Oleh karena itu, tancapkan hatimu, akarmu, kepada Sumber Kehidupan, kepada Dzatullah. Maka kau akan selamat.


Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut,
dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
-- Al A'raaf 205.

Pohon tidak pernah khawatir akan kehilangan daun untuk selamanya ketika daunnya berguguran. Apakah kamu tidak malu pada pohon itu? Belajarlah darinya.