Laman

Monday, 31 May 2010

Sudahkah Aku Membuat Ayah dan Ibu Tersenyum?

Ketika pertanyaan pendek itu muncul dalam pikiran aku sungguh tak sanggup untuk menjawabnya dengan seketika, Untuk menjawab pertanyaan singkat tersebut tentunya dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk merenung dan mengingat kembali dimana sejak aku lahir sampai sekarang ini menjadi remaja sudah berapa kali aku membuat Ibu dan Ayahku menangis dan seberapa sering membuat mereka menangis..Hati terasak sesak dan tangan ini bergetar untuk menulis artikel ini karena aku merasa lebih sering membuat mereka menangis,sedih dan sengsara karena aku dibandingkan membuat mereka tersenyum. Kawan sekalian saya coba mengingatkan pada diri saya sendiri dan temen sekalian ketika pertanyaan berikut ini kita tanyakan pada diri kita sendiri apa jawaban kita:
  1. Sudahkah kita berperilaku sopan pada orangtua kita?
  2. Pernahkah kita membuat mereka sengsara karena kita?
  3. Seberapa sering kita menjenguk mereka ketika kita jauh dari mereka?
  4. Seberapa sering kita menayakan kabar mereka dibandingkan pacar?
  5. Pernahkah kita mengacuhkan mereka dan menganggap diri kita sok pintar?
  6. Seberapa sering kata-kata kita menyakiti mereka?
  7. Dan banyak petanyaan lain yang tidak bisa tertuliskan....
Mungikin pertama kedua orangtua mendengar kita ada dalam kandungan Ibu dan Ayah senangnya luar biasa dengan wajah yang penuh harapan besar dan kesenangan yang luar biasa karena mendapatkan kepercayaan dari Allah untuk mengemban amanah untuk diberi titipan berupa anak. Tapi ingatlah kawan sekalian semakin bertambahnya umur kandungan ibu semakin kita menyusahkan mereka, bahkan sejak didalam kandungan kmita sudah membebani mereka, sampai kita dilahirkan ibu menaruhkan nyawanya demi anak tercinta. Setelah tumbuh dewasa apakah kita ingat itu semua?? Apakah kita selalu menjadi anak yang hanya bisa minta ini minta itu barang-barang mewah dan sebagainya....
Coba kita renungkan bersama ayat berikut:
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. 31:14)
Dalam ayat diatas jelas tertulis bahwa sebagai anak kita diwajibkan berbuat baik kepada kedua orangtua kita. Ingatlah kawan semua apa yang terjadi pada kita baik itu baik atau buruk kedua orangtua kita ikut bertanggung jawab karena kita adalah titipan ALLAH yang diberikan pada kedua orangtua kita. Kita dititipkan dalam keadaan suci dan baik, kalau kita tumbuh berkembang jadi orang yang tidak baik bahkan sangat menyimpang apakah kita akan selamanya menyusahkan mereka sejak kita didalam kandungan bahkan sampai diakhirat kelak....
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (Q.S. Al Isra': 23)   
Kemudian disebut pula dalam ayat ini sebab-sebab diperintahkan berbuat baik kepada ibu, yaitu:
1. Ibu mengandung seorang anak sampai ia dilahirkan, selama masa mengandung itu ibu menahan dengan sabar penderitaan yang cukup berat, mulai pada bulan-bulan pertama, kemudian kandungan itu semakin lama semakin berat, dan ibu semakin lemah, sampai ia melahirkan. Kemudian baru pulih kekuatannya setelah habis masa nifasnya.
2. Ibu menyusukan anaknya sampai masa dua tahun. Amat banyak penderitaan dan kesukaran yang dialami ibu dalam masa menyusukan anak itu. Hanyalah Allah yang mengetahui segala penderitaan itu.
Dalam ayat ini hanya yang disebutkan apa sebabnya seorang anak harus menaati dan berbuat baik kepada ibunya, tidak disebutkan apa sebabnya seorang anak harus menaati dan berbuat baik kepada bapaknya. Hal ini menunjukkan bahwa kesukaran dan penderitaan dalam mengandung, memelihara dan mendidik anaknya jauh lebih berat bila dibandingkan dengan penderitaan yang dialami bapak dalam memelihara anaknya tidak hanya berupa pengorbanan sebagian dari waktu hidupnya untuk memelihara anaknya, tetapi juga penderitaan jasmani, rohani dan penyerahan sebagian zat-zat penting dalam tubuhnya untuk makanan anaknya yang dihisap oleh anak itu dan darahnya sendiri selama anaknya itu dalam kandungannya. Kemudian sesudah si anak lahir ke dunia lalu disusukannya dalam masa dua tahun lamanya. Air susu ibu (A.S.I) ini juga terdiri dari zat-zat penting dalam darah ibu, yang disuguhkannya kepada anaknya dengan rela kasih sayang untuk dihisap anaknya itu. Dalam A.S.l ini terdapat segala macam zat yang diperlukan untuk pertumbuhan jasmani dan rohani anak itu, dan untuk mencegah segala macam penyakit. Zat-zat ini tidak terdapat pada susu sapi, oleh sebab itu susu sapi dan yang sejenisnya tidak akan sama mutunya dengan A.S.I bagaimanapun mengusahakan agar sama mutunya. Maka segala macam bubuk susu, atau susu kaleng yang dikenal dengan istilah Susu Kental manis (S.K.M) tidak ada yang sama mutunya dengan A.S.I.
Sebab seorang ibu haruslah menyusui anaknya yang dicintainya itu dengan A.S.I, janganlah hendaknya dia menggantikannya dengan bubuk susu atau S.K.M, kecuali dalam hal yang amat memaksa. Apalagi mendapatkan A.S.I dari ibunya adalah hak anak itu, dan menyusukan anak adalah suatu kewajiban yang telah dipikulkan oleh Allah SWT kepada ibunya.
Oleh karena hal-hal yang disebutkan itu, maka dalam ayat ini Allah SWT hanya menyebutkan sebab-sebabnya manusia harus menaati dan berbuat baik kepada ibunya. Nabi saw sendiri memerintahkan agar seorang anak lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibunya dari pada kepada bapaknya, sebagaimana diterangkan dalam hadis:  
 "Dari Bahaz bin Hakim, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata "Aku bertanya Ya Rasulullah. kepada siapakah aku wajib berbakti?" Jawab Rasulullah . "Kepada ibumu". Aku bertanya: "Kemudian kepada siapa?". Jawab Rasulullah: "Kepada ibumu". Aku bertanya: "Kemudian kepada siapa lagi?". Jawab Rasulullah: "Kepada ibumu". Aku bertanya: "Kemudian kepada siapa lagi?". Jawab Rasulullah: "Kepada bapakmu". Kemudian kepada kerabat yang lebih dekat. kemudian kerabat yang lebih dekat". (H.R. Abu Daud dan Tirmizi, dikatakan sebagai hadis hasan)
Adapun tentang lamanya menyusukan anak, maka Alquran memerintahkan agar seorang ibu menyusukan anaknya paling lama dalam masa dua tahun, sebagai yang diterangkan dalam ayat ini, dengan firman Nya" dan menyapihnya dalam masa dua tahun" sebagai disebutkan di atas. Dalam ayat-ayat yang lainpun Allah SWT menentukan lamanya menyusukan anak itu, yaitu selama dua tahun juga. Allah SWT berfirman: 
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (Q.S. Al Baqarah: 233) 

Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan". (Q.S. Al Ahqaf: 15) 
Maksudnya: Lamanya seorang ibu mengandung anaknya. ialah enam bulan (dan ini adalah masa mengandung yang paling kurang), dan masa menyusukan ialah dua puluh empat bulan.
Jadi menurut yang diajarkan oleh Alquran, seorang ibu menyusukan anaknya hendaklah dalam masa dua tahun. Pada ayat 233 surat Al Baqarah di atas diterangkan bahwa masa menyusukan yang dua tahun itu adalah bagi seorang ibu yang hendak menyusukan anaknya dengan sempurna. Maksudnya, bila ada sesuatu halangan, atau masa dua tahun itu dirasakan amat berat, maka boleh dikurangi.
Penentuan dari Allah SWT bahwa masa menyusukan itu adalah dua tahun, adalah pengaturan dari Tuhan untuk menjarangkan kelahiran. Dengan menjalankan pengaturan yang alamiyah ini seorang ibu hanya akan berputra paling rapat sekali dalam masa tiga tahun, atau kurang sedikit. Sebab dalam masa menyusukan, seorang wanita dianjurkan jangan dalam keadaan mengandung.
Kemudian Allah SWT menjelaskan yang dimaksud dengan "berbuat baik" yang diperintahkan Nya dalam ayat 14 ini, yaitu agar manusia selalu bersyukur setiap saat menerima nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan Nya kepada mereka setiap saat, dengan tiada putus-putusnya, dan bersyukur pula kepada ibu bapak karena ibu bapak itulah yang membesarkan, memelihara, dan mendidik dan bertanggung jawab atas diri mereka, sejak dalam kandungan sampai kepada saat mereka sanggup berdiri sendiri. Dalam waktu-waktu itu ibu bapak menanggung segala macam kesusahan dan penderitaan, baik dalam menjaga diri maupun dalam usaha mencarikan nafkahnya.
Ibu bapak dalam ayat ini disebut secara umum, tidak dibedakan antara ibu bapak yang muslim dengan yang kafir. Karena itu dapat disimpulkan suatu hukum berdasarkan ayat ini, yaitu seorang anak wajib berbuat baik kepada ibu bapaknya, apakah ibu bapaknya itu muslim atau kafir.
Di Samping yang disebutkan ada lagi beberapa hal yang mengharuskan anak menghormati dan berbuat baik kepada ibu bapak, yaitu:
1. Ibu dan bapak telah mencurahkan kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Cinta dan kasih sayang itu terwujud dalam berbagai bentuk, di antaranya ialah usaha-usaha memberi nafkah, mendidik dan menjaga serta memenuhi keinginan-keinginan anaknya. Usaha-usaha yang tidak mengikat itu dilakukan tanpa mengharapkan balasan sesuatupun dari anak-anaknya, kecuali agar anak-anaknya di kemudian hari berguna bagi agama, nusa dan bangsa
2. Anak adalah buah hati dan pengarang jantung dari ibu bapaknya, seperti yang disebutkan dalam suatu riwayat. Rasulullah saw bersabda: "Fatimah adalah buah hatiku".
3. Anak-anak sejak dari dalam kandungan ibu sampai dia lahir ke dunia dan sampai pula dewasa, makan, minum dan pakaian serta segala keperluan yang lain ditanggung ibu bapaknya.
Dengan perkataan lain dapat diungkapkan bahwa nikmat yang paling besar yang diterima oleh seorang manusia adalah nikmat dari Allah, kemudian nikmat yang diterima dari ibu bapaknya. Itulah sebenarnya Allah SWT meletakkan kewajiban berbuat baik kepada kedua orang ibu bapak, sesudah kewajiban beribadat kepada Nya.
Pada akhir ayat ini Allah SWT memperingatkan bahwa manusia akan kembali kepada Nya, bukan kepada orang lain. Pada saat itu Dia akan memberikan pembalasan yang adil kepada hamba-hamba Nya. Perbuatan baik akan dibalasi pahala yang berlipat ganda berupa surga yang penuh kenikmatan sedang perbuatan jahat akan dibalasi dengan siksa berupa neraka yang menyala-nyala.